Hirup Residu Asap Rokok Dari Baju Ayahnya, Bayi Ini Meninggal Kena Radang Paru-Paru

Bahaya asap rokok terhadap kesehatan kerap disepelekan oleh si tukang ngebul. Di penghujung Maret 2014, seorang bocah berusia 3,5 tahun yang menjadi korban karena tinggal bersama para perokok aktif.


Sang ibu, Dina Akmalia (39) mengira itu batuk biasa. "Saya kira pertamanya batuk pancaroba biasa. Seminggu tak kunjung sembuh, dibawa ke dokter dikasih obat. Sebulan kemudian belum sembuh dikasih obat lain. Tapi ternyata 3 bulan belum sembuh juga, akhirnya dokter menyarankan untuk rontgen," papar Dina.

Hasil rontgen menunjukkan paru-paru bocah bernama Athalla itu berkabut cukup tebal. Dokter juga mengatakan banyak flek di paru-paru Athalla. Sontak Dina terkejut karena suami dan kakak Athalla memang perokok aktif. Kebetulan mereka juga tinggal bersebelahan dengan kerabat yang juga perokok aktif.

Hal serupa dirasakan Dinda Lazuardi. Lewat media sosial Path, Instagram dan Twitter, ia mengisahkan putranya, Keanu (2) mengalami masalah paru-paru yang ia tuding disebabkan kebiasaan merokok suaminya.
"Astagfirullah..ternyata ada masalah kecil di paru2 keanu dan hrs mulai pengobatan 6 bln! Hasil rontgen paru keanu sama kya perokok aktif! Papahnya selalu ngeroko dkt anak2 pdhl udh sering diomongin ratusan kali!!" demikian potongan postingan Dinda di Path.

Selain dari para ibu, kisah tentang bahaya asap rokok juga diutarakan seorang mantan perokok.
Jangankan menghirup asap rokok, menghirup residu atau endapan racun dari asap rokok juga berbahaya bagi anak. Seorang mantan perokok aktif mengaku telah mengalaminya sendiri, sang anak meninggal meski ia selalu merokok di luar rumah. Pria yang hanya menggunakan akun 05072013 tersebut mengaku anaknya meninggal akibat pneumonia atau radang paru-paru di usia satu tahun.

"Gua mantan perokok gan (perokok aktif selama 18 thn). Anak gua cewek hanya bisa genap usianya 1 tahun 10 hari, wafat di vonis radang paru-paru akut (pneumonia) krn ayahnya ngerokok. bukan ngerokok di sebelah anaknya (gua klo ngerokok pasti keluar rumah), tetapi menghirup racun-racun nikotin dari baju ayahnya saat kondisi menggendongnya setelah barusan merokok :sedih," demikian kutipan pengakuan pria tersebut.

Sebagian pengguna media sosial menganggap kesaksian ini berlebihan, namun tidak halnya dengan dr Arifianto, SpA. Menurut dokter yang akrab disapa dr Apin ini mengatakan orang tua yang merokok tetap membuat anaknya berisiko terkena penyakit paru-paru meski sudah membatasi untuk tidak merokok di dalam rumah.

"Asap rokok itu efeknya sampai 10 meter. Jadi biar merokok di kantor atau di perjalanan tetapi baru masuk rumah langsung peluk, gendong, atau cium anak tanpa mandi, bersih-bersih dan sikat gigi dahulu," kata dr Apin. Ini dikatakan sebagai efek residu dari racun rokok yang bisa saja menempel dimanapun, di baju, atau gorden dan seprai.

dr Darmawan B Setyanto, SpA(K), ahli pernapasan anak dari RS Cipto Mangunkusumo menambahkan batuk atau sesak dada pada anak tidak semata disebabkan asap rokok, namun tidak dipungkiri bila asap rokok bisa mengakibatkan hal ini, walaupun secara tidak langsung.

"Asap rokok itu merusak dinding saluran napas. Sehingga memudahkan kuman-kuman penyakit masuk ke dalam paru-paru atau saluran napasnya. Kuman TB (Tuberculosis), bronkitis atau bisa menyebabkan radang di tenggorokan," papar dr Darmawan.

Selain itu, psikolog tumbuh kembang anak Ratih Ibrahim mengkhawatirkan bila si anak tumbuh menjadi perokok karena tinggal bersama perokok. "Jika anak terbiasa melihat orang tua merokok, akan timbul anggapan bahwa merokok adalah perbuatan yang wajar dilakukan orang dewasa, yang nantinya juga akan diikuti oleh anak," papar Ratih

Lagipula bau yang ditinggalkan oleh rokok di pakaian atau tubuh orang tuanya dan tercium oleh anak membuatnya merasa lebih familiar dengan bau tersebut, sehingga mereka terbiasa dengan kehadiran rokok.

Dirangkum dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan peningkatan prevalensi perokok pada tahun 2007, 2010, dan 2013 secara berturut-turut. Mulai dari 34,2%, 34,7% dan akhirnya menjadi 36,3%. Kebiasaan merokok juga cenderung meningkat pada generasi muda, khususnya pada usia 15-19 tahun, dari 7,1% pada tahun 1995 menjadi 18,3% pada tahun 2013.

[infokesehatan]

Subscribe to receive free email updates: